Bandung,
Kota kembang yang katanya lautan api..
“Udah
lah yah.. ga usah mikirin kata mereka yang mau jalanin semuanya kan keluarga
kita, yang mau skolah di Bandung juga Alysa, yang memutuskan kita pindah ke Bandung
kan juga kita, untuk Alysa, dan Shila”
Rasanya mobil yang berjalan
terus menelusuri kota Bandung ini lebih menarik pokok pembicaraan dari pada
perdebatan kedua orang tuanya yang tak ada habisnya membahas tentang keluarga
Ayah.
“Tapi
kan bu, di sini mereka yang berkuasa di atas segala-galanya.. di atas uang..”
“Iya,
ibu paham yah.. tapi kan….”
Suara ibu semakin menipis, Gadis cantik
yang sedang duduk di kursi blakang itu mengeraskan volume lagu yang kini ia
dengarkan melaluli hedset nya.. kata trakhir yang ia dengar dari Ayah adalah
uang, iya, uang itu memang sebuah benda mati yang bisa menyetir manusia dengan
sendirinya, uang itu rajanya dunia. Pakde Jim adalah orang yang memiliki banyak
uang, hartanya tak terkira, ia bisa saja menghabiskan uanganya untuk
kepentingan pribadinya dan keluarga, pakde Jim sendiri tak pernah berhenti
untuk menyisihkan sedikit hartanya untuk memberi anak yatim-piatu, rasanya
jumlah nominal 10jt pun tak akan membuatnya jatuh miskin. Bahkan jabatannya
sekarang adalah kepercayaan pak harto untuk untuk dirinya memegang TMII.
‘Setiap perbedaan itu pasti ada’, kata
itu yang selalu ibu ucapkan, mereka biasa memanggilnya bukde Jim, istri dari
pakde Jim. Bukde Jim ini sudah memandang segalanya dengan uang, terkadang apa
yang suaminya keluarkan untuk yatim-piatu bisa jadi perdebatan kecil, padahal
uang keluarga jendral itu sangat besar, sungguh tak adil rasanya jika orang
yang membutuhkan banyak biaya tak bisa mendapatkan hartanya yang begitu banyak,
setengah persen dari harta mereka kan juga milik sebagian org yang membutuhkan.
Pakde Jim begitu sayang dengan keluarga
yang hendak pergi ke kota kembang ini, mereka akan pindah ke Bandung dengan
keputusan sang kepala keluarga, ayah. Alasannya anak pertama dari keluarga
sederhana ini sudah menetap melanjutkan perguruan tingginya di sebuah
universitas terkenal di Bandung, ITB.
Ashila, anak pertama dari Ayah Pramata dan Ibu Anggun, Awalnya Ayah
benar-benar tak tahu apakah setelah lulus SMA kemarin Ashila akan melanjutkan
pendidikannya, ia sudah mewanti-wanti pada kedua putrinya agar tak putus
sekolah namun dalam pikirannya wktu itu adalah bagaimana ia bisa menyekolahan
kedua putrinya dengan tinggi, pada saat itu lah pakde Jim berperan di dalam
keluarga ini, rumahnya yang mewah selalu jadi tempat berkumpulnya keluarga
besar Ayah, anak pembantu yang tidak sekolah pasti di sekolahkan oleh pakde
Jim, bagaimana bisa Ashila yang statusnya tercantum sebagai keponakannya ia
biarkan tak menempuh pendidikan tinggi.
Ayah itu
ga pernah meminta untuk menyekolahkan kedua anaknya dengan uang pakde Jim,
namun anggapan bukde Jim selalu bertolak belakang dengan ayah, ia menganggap
ayah sebagai adik kandung dari pakde Jim sungguh merepotkannya, sungguh ingin
menghabiskan hartanya, apa lagi dengan ibu, ibu menikah dengan ayah waktu itu
bisa di kategorikan orang yang
berkecukupan, setelah bertemu dengan pakde dan bukde Jim, anggapan bukde Jim
mulai berubah 1800 bahwa keluarga Pratama sanggat merepotkan, tapi
sungguh Ayah tak pernah meminta uang pakde Jim sedikit pun untuk kepentingan
pribadinya, mungkin pakde Jim saja yang sadar bahwa Adiknya butuh bantuan, prasaan
kaka terhadap adiknya akan menumbuhkan rasa iba yang begitu dalam bukan?
“fy..”
tak ada sahutan, anak kedua dari ibu Anggun ini sedang fokus melamuni pakde Jim
tanpa peduli apa yang sedang di bicarakan kedua org tuanya. Ibu hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak ingin merusak lamunan anaknya dengan
pertanyaan sekolah barunya di Bandung.
Mobil yang di kendarai ayah berhenti
di sebuah rumah makan yang kelihatannya memang besar, ify segera mencopot
hedset yang dari tadi menempel di telinganya dan segera mengandeng tangan ibu
nya..
“Bu,ini
rumah makan apa?”
“Surabi..”
ayah memastikan mobil nya sudah aman terpakir di pingggir rumah makan yang
bertulisan ‘Surabi Bandung’
“Surabi?
Ko gede bgt tempatnya yah? Kaya lestoran..” Ayah dan Ibu hanya tersenyum
mendengar pertanyaan putrinya ify. “memangnya lestoran itu hanya ada di Jakarta
fy?” jawab ibu, kursi bernomor 4 di pilih ayah untuk menikmati hidangan surabi
Bandung yang katanya terkenal enak dengan cirri khas surabi yang beraneka rasa.
**************************************
Gadis cantik bernama lengkap
Alysa Saufika Umari ini siap berangakt ke sekolah barunya, sekolah negri dengan
plank ‘SMA Bintang’ akan menjadi sekolah nya ke depan. “Aduhh, anak ibu cantik
banget sih” puji ibu, gaya purinya ini selalu tampak elegan, rambut nya yang
panjang selalu ia biarkan terurai dengan bandu putih yang kini ia kenakan untuk
sedikti hisahan pada mahkotanya, lengkap dengan seragam yang ia kenakan membuatnya tampil secara
sempurna pagi hari ini.
“Bu,
ify brangkat ya..” Wajah ceria nya mengiasi pagi harinya
“Nanti
langsung pulang ya fy, katanya ka Shila mau ke rumah”
“Oke..”
Kedua pipi ibu nya mendapat kecukapan ke dua dari ify setelah ayah, ayah yang
sudah menunggu di mobil kini akan mengantar putrinya menuju sekolah barunya.
Dalam perjalanan ify meminta
ijin untuk membuka kaca mobil, ia ingin lebih dekat dengan kota kembang yang
bernama Bandung ini, rasanya surabi yang baru saja kemarin ia nikmati menarik
perhatiannya untuk mengenal kota Bandung lebih dekat, udara sejuk mengibas
rambut ify, ah ternyata Bandung itu memang yang terbaik dari Jakarta, tak ada
macet, tak ada polusi, biasanya saat saat seperti ini ify dan ayah selalu
terjebak macet di Jakarta yang akhirnya membuat ify sering sekali terlambat
sekolah, udara sesejuk ini juga tak pernah ia nikmati seperti saat ini.. udara
kali ini seperti udara di pegunungan yang tinggi, bau bohon rindang yang sejuk
dan tanah yang masih segar dapat terhirup oleh ify, ah sepertinya ify mulai
jatuh cinta dengan Bandung si Kota Lautan Api.
Setibanya di gerbang sekolah
barunya ify mulai melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu, ia tak tahu di mana
kelas yang akan menjadi ruang belajarnya nanti, dimana kelas yang akan membawanya
ke pendidikan yang lebih tinggi seperti ka Shila. Dengan ragu ify bertanya pada
seorang satpam penjaga pintu gerbang untuk menunjukan ruang kepala sekolah,
mengapa sih Ayah langsung pergi? Mengapa ia tidak mengantar putrinya dulu?
minimal hingga ia menemukan ruang kelasnya, sempat menyesal karna tak memaksa
ayah tadi, pikirnya. Setelah satpam itu menunjukan ruang kepaa sekolah, ify
segera bertemu pada salah seorang guru dan memperkenalkan dirinya bahwa ia
murid yang baru pindah dari Jakarta, dan
ia ingin mengetahui di mana kelasnya terletak. Ah ternyata guru itu menyebutkan
kelas XII A.
Ruang kelas yang tampak seperti
ruang kelas lainnya terlihat begitu sederhana dari kelasnya di Jakarta,
sebagian anak-anak sudah banyak yang memenuhi kelas, bagaimana caranya agar ify
punya teman? Ia sudah lupa bagaimana awal ia memperkenalkan diri sebagai anak
baru di sekolah, itu ia lakukan ketika ia kelas 1 SMA di Jakarta. Dengan
kepercayaan diri yang semakin meciut ify duduk di bangku belakang tanpa
memperkenalkan dirinya kepada siapapun, hanya sapaan senyum yang ia berikan
kepada sebagian seisi kelas yang mulai memperhatikannya.
“Anak
baru ya?” Seorang gadis cantik berambut sebahu menyapa ify.. ia duduk di depan
bangku ify, menyapa tanpa melihat ify kebelakang itu rasanyaa…
“Pindahan
dari mana?” gadis itu masih menyapa ify tanpa melihatnya kebelakang, ga sopan!
Pikir ify, memangnya ify siapa? Ify juga manusia yang butuh di hormati bukan,
bukan hormat seperti pak jendral atau komandan-komandan tinggi, tapi ibu selalu
bilang sesama manusia itu harus saling menghargai, malas rasanya untuk
menjawab, tiba-tiba seorang pria berfostur tubuh tinggi, kulit sawo yang matang,
dah dengan tatapan mata yang.. terduh, serta senyum yang ia lemparkan kepada
ify menghampiri gadis tak punya sopan santun tadi dengan membawa sebotol air
minera
“Ag,
nih minum.. sorry ya lama… biasaa.. ngantri..”
“Gak
apa-apa yo,, eh yoo ada anak baru yang di belakang? Ko dari tadi gue ngomong sm
dia ga di jawab sih? Ada ga sih orang nya?”
Pria
yang di panggil ‘yo’ tadi menatap ify, lalu ia tersenyum, sementara ify
memandang kedua nya heran, lalu ia memutuskan untuk bangkit dari kursinya dan
ingin langsung menasehati cwe yang sendari tadi membelakangi nya terus.
“Lo
anak baru ya? Gue Mario” setelah ify berhasil melihat wajah cwe berambut sebahu
itu… mengapa tatapan matanya kedepan terus? Padahal dirinya sudah berdiri di
sampingnya, mengapa ia tak mengalihkan sedikit pandangannya pada ify? Dengan
heran ify menatap sosok Mario yang smpat ia abaikan atas perkenalan namanya
tadi, cwo itu masih mengulurkan tangannya, menunggu jawaban ify untuk
memperkenalkan namany juga rupanya,
“Gue
Alysya, tapi biasa di panggil ify..” setelah menjabat tangan Mario ify masih
menatap gadis yang masih memandang ke depan, seperti patung saja, pikirnya.
“Gue
Agni.. “ Sambil tersenyum gadis yang
bernama agni itu masih tetap bertahan dengan pandangan ke depan.
“Gue
ify..” ify mengulurkan tangannya, seperti hal nya Rio yang ingin mendapat
uluran tangan oleh lawan kenalannya. Namun ify memandang agni kesal tak sedikit
pun ia mengulurkan tangannya untuk menjabat ify, sementara rio, ah lelaki itu
dari tadi senyam senyum saja tanpa memeberi jawaban ada apa pada agni si gadis
aneh itu!
“Ag,,
ify mau salaman sm lu tuh..” Rio mengatakan hal itu ketika ify sudah menurunkan
tanggannya, apa maksudnya?, “Oh” dengan spontan agni mencari tangan ify,
seperti orang yang sedang meraba-raba untuk menemukan uluran tangan, ify
sepertinya mulai menyadari sesuatu bahwa agni….
“Nih”
Rio mengangkat tangan ify untuk menerima uluran agni yang dari tadi
mencari-cari tangannya, cwo ini memegang lengan ify untuk agni.. ify masih
binggung harus bagaimana sepertinya benar agni itu tak bisa melihat. Ia tuna
netra. Menyesal rasanya ia udah mengjudge agni dalam hatinya tadi, ah maaf ya.
**************************************
Bel bertanda istirahat pun
berbunyi kini ify mencoba akrab dengan Rio dan Agni, biasanya mereka berdua
pergi ke kantin blakang, di sana ada persawahan hijau yang bisa menyejukan
mata, agni dan rio suka berada di sana saat jam jam istirahat seperti sekarang.
“Ikut
yuk fy..” ajak agni
“Ayo..”
sambil tersenyum, namun senyum ify tiba-tiba pudar, bagaimana bisa agni melihat
senyum nya, melihat senyumnya di hadapan kaca sekalipun tak mungkin
terlihat, ify tak sadar bahwa ada sosok
lain yang memperhatikan senyum nya selain agni, dan ia mulai meyakini bahwa
senyum ify bukan hanya manis, namun tulus. Tak smua seisi kelas bisa menerima
keadaan agni, tak sedikit yang
mengatakan bahwa rio si pria tanpan yang mau berteman dengan gadis si tuna
netra sangat tak cocok, memang nya pria semanis dan setampan rio tidak bisa
mencari pendamping kisah cintanya selain dengan agni si buta, pikiran-pikiran
itu yang selalu di dengar rio dan agni nanmun tak sedikit di gubris oleh kedua
sahabat yang sudah lama merajut kisah persahabatan mereka.
Setibanya mereka di kantin belakang
benar saja, ah suasana sawah hijau yang menghijaukan semua pandangan mata,
segar rasanya meski matahari hari ini sedang berada di puncak kepala namun panas
nya sang surya kali ini benar-benar terabaikan oleh ify. Kota Bandung, kota
penghijauan.
“mau
pesan makanan apa nona?” Rio yang melihat ify hanya melamuni sawah-sawah hijau
itu pun mengingatkannya bahwa di sini juga tempat untuk mengisi perut yang
kosong, bukan hanya mengisi kesejukan hati atau keindahan mata semata.
“Apa
aja yo,,” Rambut panjang ify teribas angin sawah, “Gue suka suasana nya..,”
“Gue
pesen bakmi yang biasa kita pesen ya ag.. lu mau fy?”
“Boleh
yo,, thank’s ya..” ify kembali memandang swah yang masih tampak hijau,
kehijauan itu bergoyang tertiup angin, indah. Bandung benar-benar kota yang
sudah menjadi desa.
“fy..”
Agni membuyarkan pemikiran ify tentang kota Bandung. “Iya? Bandung indah ya
ag..”
“Masa
sih? Bukannya Jakarta itu kota besar melebihi Bandung?”
“Di
Jakarta mana ada udara segar tengah hari bolong kaya gini.. huh”
“Tapi
Jakarta itu punya Monunem Nasioal loh,, dan itu keren bgt kan fy?”
“iya
sih,, tapi Bandung tuh lebih seru di banding Jakarta yang gersang..”
“Manusia
emng ga pernah puas ya? Pasti orang-orang di Bandung juga jenuh sm suasana di
sini, nanti kamu juga bosen sm bandung fy lama-lama haha..”
Ify
tak mengubris pembicaran agni, ntah lah mungkin benar bsok atau 2 minggu
kedepan mungkin pemandangan Bandung yang ia lihat sekarang akan terasa jenuh,
tapi tidak untuk kali ini, matanya masih ingin menikmati angin sejuk siang hari
ini, namun tiba-tiba bola matanya tertuju pada gadis yang dari tadi setia
menemaninya, sama-sama memandang keindahan sawah sejauh mata memandang namun
kekosongan mata agni yang mebedakan segalanya.
“ag,,”
“Iya?”
Mata agni masih tertuju pada sawah-sawah itu, ntah lah mungkin agni benar-benar
bisa melihat sawah yang hijau itu bergoyang karena tertiup angin dalam klise
mata yang berbeda.
“Kamu
sering ke dokter ya?”
“Ke
dokter? Ngapain? Gue sehat kali fy..”
“Cek
ada donor mata atau engga..”
Gadis
yang biasa di panggil agni ini malah tertawa kecil, “Ngapain fy? Kurang kerjaan
bgt nge cek in ada donor mata atau engga..”
“Loh?
Emangnya kamu ga mau…..” ify tak melanjutkan kata-kata nya ia heran ko agni
malah tetawa? Memangnya ia tak ingin…
“Bisa
Melihat?” agni menyabung kata-kata ify yang sempat terputus.
“Iya,,
sorry ya ag..”
“Gak
apa-apa fy.., gini ya..” agni membalik posisi duduknya kearah ify berada, ia
memandang ify, namun tetap, mata itu kosong, tak bernyawa.
“Gue,
udah buta dari lahir fy, gue ga mau merubah takdir yang udh Allah kasih ke gue
Cuma karena gue pengen lihat.. kecuali Allah sendiri yang ngasih izin buat gue
bisa melihat lagi” ify sedikit tidak paham maksud dari teman baru nya ini, apa
maksudnya? Memangnya kalau orang sudah buta atau cacat dari lahir ga boleh
melalukan pengambilan donor mata?
“Jadi?
Maksudnya kamu ga mau merubah takdir? Tapi kan takdir itu ga harus smuanya di
ikuti ag,, takdir itu ada yang bisa di ubah oleh kita loh..”
“Iya, gue paham tapi
buat apa gue bisa melihat kalau dari awal gue
udh ga dapet izin dari Allah? Donor mata itu ibaratnya Cuma ikutin nafsu gue
aja buat bisa lihat fy..”
“Aku ga ngerti deh ag..”
“haha..
kadang apa yang gue pahami emg sulit di mengerti sm orang lain fy,, so yaaaa…
gini lah gue..”
“Emangnya
kamu ga mau melihat dunia? Ga mau liat monas? Ga mau liat swah yang sekarang
ada di depan mata kamu ag? Emangnya kamu ga mau liat Rio? Ga mau liat aku? Ga
mau liat…….”
“Shhhhtttt…
“ jari telunjuk agini tepat berada di bibir ify, ntah lah mengapa ify tiba-tiba
ingin menangis? Ternyata ify menyadari satu hal agni itu kadang bisa melihat,
terkadang agni itu bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat dengan mata
normal.
“Fy,
kalau lo mau jadi sahabat gue, lo harus pahami apa maksud gue yang tadi, ga
smua takdir yang kita inginin indah itu terwujud..” Agni tersenyum
“Bakmi
datangggggggggg..” Mario, datang membawakan tiga mangkuk yang berisi bakmi
tanpa mengetahui perdebatan dua gadis
yang sudah siap menyantap bakmi tersebut.
masih berlanjut.. hehe