Jumat, 19 Juli 2013

Good bye Bandung

Bandung, Kota kembang yang katanya lautan api..
“Udah lah yah.. ga usah mikirin kata mereka yang mau jalanin semuanya kan keluarga kita, yang mau skolah di Bandung juga Alysa, yang memutuskan kita pindah ke Bandung kan juga kita, untuk Alysa, dan Shila”
                Rasanya mobil yang berjalan terus menelusuri kota Bandung ini lebih menarik pokok pembicaraan dari pada perdebatan kedua orang tuanya yang tak ada habisnya membahas tentang keluarga Ayah.
“Tapi kan bu, di sini mereka yang berkuasa di atas segala-galanya.. di atas uang..”
“Iya, ibu paham yah.. tapi kan….”
Suara ibu semakin menipis, Gadis cantik yang sedang duduk di kursi blakang itu mengeraskan volume lagu yang kini ia dengarkan melaluli hedset nya.. kata trakhir yang ia dengar dari Ayah adalah uang, iya, uang itu memang sebuah benda mati yang bisa menyetir manusia dengan sendirinya, uang itu rajanya dunia. Pakde Jim adalah orang yang memiliki banyak uang, hartanya tak terkira, ia bisa saja menghabiskan uanganya untuk kepentingan pribadinya dan keluarga, pakde Jim sendiri tak pernah berhenti untuk menyisihkan sedikit hartanya untuk memberi anak yatim-piatu, rasanya jumlah nominal 10jt pun tak akan membuatnya jatuh miskin. Bahkan jabatannya sekarang adalah kepercayaan pak harto untuk untuk dirinya memegang TMII.
‘Setiap perbedaan itu pasti ada’, kata itu yang selalu ibu ucapkan, mereka biasa memanggilnya bukde Jim, istri dari pakde Jim. Bukde Jim ini sudah memandang segalanya dengan uang, terkadang apa yang suaminya keluarkan untuk yatim-piatu bisa jadi perdebatan kecil, padahal uang keluarga jendral itu sangat besar, sungguh tak adil rasanya jika orang yang membutuhkan banyak biaya tak bisa mendapatkan hartanya yang begitu banyak, setengah persen dari harta mereka kan juga milik sebagian org yang membutuhkan.
Pakde Jim begitu sayang dengan keluarga yang hendak pergi ke kota kembang ini, mereka akan pindah ke Bandung dengan keputusan sang kepala keluarga, ayah. Alasannya anak pertama dari keluarga sederhana ini sudah menetap melanjutkan perguruan tingginya di sebuah universitas terkenal di Bandung, ITB.  Ashila, anak pertama dari Ayah Pramata dan Ibu Anggun, Awalnya Ayah benar-benar tak tahu apakah setelah lulus SMA kemarin Ashila akan melanjutkan pendidikannya, ia sudah mewanti-wanti pada kedua putrinya agar tak putus sekolah namun dalam pikirannya wktu itu adalah bagaimana ia bisa menyekolahan kedua putrinya dengan tinggi, pada saat itu lah pakde Jim berperan di dalam keluarga ini, rumahnya yang mewah selalu jadi tempat berkumpulnya keluarga besar Ayah, anak pembantu yang tidak sekolah pasti di sekolahkan oleh pakde Jim, bagaimana bisa Ashila yang statusnya tercantum sebagai keponakannya ia biarkan tak menempuh pendidikan tinggi.
Ayah itu  ga pernah meminta untuk menyekolahkan kedua anaknya dengan uang pakde Jim, namun anggapan bukde Jim selalu bertolak belakang dengan ayah, ia menganggap ayah sebagai adik kandung dari pakde Jim sungguh merepotkannya, sungguh ingin menghabiskan hartanya, apa lagi dengan ibu, ibu menikah dengan ayah waktu itu bisa di kategorikan orang  yang berkecukupan, setelah bertemu dengan pakde dan bukde Jim, anggapan bukde Jim mulai berubah 1800 bahwa keluarga Pratama sanggat merepotkan, tapi sungguh Ayah tak pernah meminta uang pakde Jim sedikit pun untuk kepentingan pribadinya, mungkin pakde Jim saja yang sadar bahwa Adiknya butuh bantuan, prasaan kaka terhadap adiknya akan menumbuhkan rasa iba yang begitu dalam bukan?
“fy..” tak ada sahutan, anak kedua dari ibu Anggun ini sedang fokus melamuni pakde Jim tanpa peduli apa yang sedang di bicarakan kedua org tuanya. Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak ingin merusak lamunan anaknya dengan pertanyaan sekolah barunya di Bandung.
                Mobil yang di kendarai ayah berhenti di sebuah rumah makan yang kelihatannya memang besar, ify segera mencopot hedset yang dari tadi menempel di telinganya dan segera mengandeng tangan ibu nya..
“Bu,ini rumah makan apa?”
“Surabi..” ayah memastikan mobil nya sudah aman terpakir di pingggir rumah makan yang bertulisan ‘Surabi Bandung’
“Surabi? Ko gede bgt tempatnya yah? Kaya lestoran..” Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengar pertanyaan putrinya ify. “memangnya lestoran itu hanya ada di Jakarta fy?” jawab ibu, kursi bernomor 4 di pilih ayah untuk menikmati hidangan surabi Bandung yang katanya terkenal enak dengan cirri khas surabi yang beraneka rasa.

**************************************
                Gadis cantik bernama lengkap Alysa Saufika Umari ini siap berangakt ke sekolah barunya, sekolah negri dengan plank ‘SMA Bintang’ akan menjadi sekolah nya ke depan. “Aduhh, anak ibu cantik banget sih” puji ibu, gaya purinya ini selalu tampak elegan, rambut nya yang panjang selalu ia biarkan terurai dengan bandu putih yang kini ia kenakan untuk sedikti hisahan pada mahkotanya, lengkap dengan seragam  yang ia kenakan membuatnya tampil secara sempurna pagi hari ini.
“Bu, ify brangkat ya..” Wajah ceria nya mengiasi pagi harinya
“Nanti langsung pulang ya fy, katanya ka Shila mau ke rumah”
“Oke..” Kedua pipi ibu nya mendapat kecukapan ke dua dari ify setelah ayah, ayah yang sudah menunggu di mobil kini akan mengantar putrinya menuju sekolah barunya.
                Dalam perjalanan ify meminta ijin untuk membuka kaca mobil, ia ingin lebih dekat dengan kota kembang yang bernama Bandung ini, rasanya surabi yang baru saja kemarin ia nikmati menarik perhatiannya untuk mengenal kota Bandung lebih dekat, udara sejuk mengibas rambut ify, ah ternyata Bandung itu memang yang terbaik dari Jakarta, tak ada macet, tak ada polusi, biasanya saat saat seperti ini ify dan ayah selalu terjebak macet di Jakarta yang akhirnya membuat ify sering sekali terlambat sekolah, udara sesejuk ini juga tak pernah ia nikmati seperti saat ini.. udara kali ini seperti udara di pegunungan yang tinggi, bau bohon rindang yang sejuk dan tanah yang masih segar dapat terhirup oleh ify, ah sepertinya ify mulai jatuh cinta dengan Bandung si Kota Lautan Api.
                Setibanya di gerbang sekolah barunya ify mulai melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu, ia tak tahu di mana kelas yang akan menjadi ruang belajarnya nanti, dimana kelas yang akan membawanya ke pendidikan yang lebih tinggi seperti ka Shila. Dengan ragu ify bertanya pada seorang satpam penjaga pintu gerbang untuk menunjukan ruang kepala sekolah, mengapa sih Ayah langsung pergi? Mengapa ia tidak mengantar putrinya dulu? minimal hingga ia menemukan ruang kelasnya, sempat menyesal karna tak memaksa ayah tadi, pikirnya. Setelah satpam itu menunjukan ruang kepaa sekolah, ify segera bertemu pada salah seorang guru dan memperkenalkan dirinya bahwa ia murid  yang baru pindah dari Jakarta, dan ia ingin mengetahui di mana kelasnya terletak. Ah ternyata guru itu menyebutkan kelas XII A.
                Ruang kelas yang tampak seperti ruang kelas lainnya terlihat begitu sederhana dari kelasnya di Jakarta, sebagian anak-anak sudah banyak yang memenuhi kelas, bagaimana caranya agar ify punya teman? Ia sudah lupa bagaimana awal ia memperkenalkan diri sebagai anak baru di sekolah, itu ia lakukan ketika ia kelas 1 SMA di Jakarta. Dengan kepercayaan diri yang semakin meciut ify duduk di bangku belakang tanpa memperkenalkan dirinya kepada siapapun, hanya sapaan senyum yang ia berikan kepada sebagian seisi kelas yang mulai memperhatikannya.
“Anak baru ya?” Seorang gadis cantik berambut sebahu menyapa ify.. ia duduk di depan bangku ify, menyapa tanpa melihat ify kebelakang itu rasanyaa…
“Pindahan dari mana?” gadis itu masih menyapa ify tanpa melihatnya kebelakang, ga sopan! Pikir ify, memangnya ify siapa? Ify juga manusia yang butuh di hormati bukan, bukan hormat seperti pak jendral atau komandan-komandan tinggi, tapi ibu selalu bilang sesama manusia itu harus saling menghargai, malas rasanya untuk menjawab, tiba-tiba seorang pria berfostur tubuh tinggi, kulit sawo yang matang, dah dengan tatapan mata yang.. terduh, serta senyum yang ia lemparkan kepada ify menghampiri gadis tak punya sopan santun tadi dengan membawa sebotol air minera
“Ag, nih minum.. sorry ya lama… biasaa.. ngantri..”
“Gak apa-apa yo,, eh yoo ada anak baru yang di belakang? Ko dari tadi gue ngomong sm dia ga di jawab sih? Ada ga sih orang nya?”
Pria yang di panggil ‘yo’ tadi menatap ify, lalu ia tersenyum, sementara ify memandang kedua nya heran, lalu ia memutuskan untuk bangkit dari kursinya dan ingin langsung menasehati cwe yang sendari tadi membelakangi nya terus.
“Lo anak baru ya? Gue Mario” setelah ify berhasil melihat wajah cwe berambut sebahu itu… mengapa tatapan matanya kedepan terus? Padahal dirinya sudah berdiri di sampingnya, mengapa ia tak mengalihkan sedikit pandangannya pada ify? Dengan heran ify menatap sosok Mario yang smpat ia abaikan atas perkenalan namanya tadi, cwo itu masih mengulurkan tangannya, menunggu jawaban ify untuk memperkenalkan namany juga rupanya,
“Gue Alysya, tapi biasa di panggil ify..” setelah menjabat tangan Mario ify masih menatap gadis yang masih memandang ke depan, seperti patung saja, pikirnya.
“Gue Agni.. “ Sambil tersenyum gadis  yang bernama agni itu masih tetap bertahan dengan pandangan ke depan.
“Gue ify..” ify mengulurkan tangannya, seperti hal nya Rio yang ingin mendapat uluran tangan oleh lawan kenalannya. Namun ify memandang agni kesal tak sedikit pun ia mengulurkan tangannya untuk menjabat ify, sementara rio, ah lelaki itu dari tadi senyam senyum saja tanpa memeberi jawaban ada apa pada agni si gadis aneh itu!
“Ag,, ify mau salaman sm lu tuh..” Rio mengatakan hal itu ketika ify sudah menurunkan tanggannya, apa maksudnya?, “Oh” dengan spontan agni mencari tangan ify, seperti orang yang sedang meraba-raba untuk menemukan uluran tangan, ify sepertinya mulai menyadari sesuatu bahwa agni….
“Nih” Rio mengangkat tangan ify untuk menerima uluran agni yang dari tadi mencari-cari tangannya, cwo ini memegang lengan ify untuk agni.. ify masih binggung harus bagaimana sepertinya benar agni itu tak bisa melihat. Ia tuna netra. Menyesal rasanya ia udah mengjudge agni dalam hatinya tadi, ah maaf ya.

**************************************
                Bel bertanda istirahat pun berbunyi kini ify mencoba akrab dengan Rio dan Agni, biasanya mereka berdua pergi ke kantin blakang, di sana ada persawahan hijau yang bisa menyejukan mata, agni dan rio suka berada di sana saat jam jam istirahat seperti sekarang.
“Ikut yuk fy..” ajak agni
“Ayo..” sambil tersenyum, namun senyum ify tiba-tiba pudar, bagaimana bisa agni melihat senyum nya, melihat senyumnya di hadapan kaca sekalipun tak mungkin terlihat,  ify tak sadar bahwa ada sosok lain yang memperhatikan senyum nya selain agni, dan ia mulai meyakini bahwa senyum ify bukan hanya manis, namun tulus. Tak smua seisi kelas bisa menerima keadaan agni, tak sedikit  yang mengatakan bahwa rio si pria tanpan yang mau berteman dengan gadis si tuna netra sangat tak cocok, memang nya pria semanis dan setampan rio tidak bisa mencari pendamping kisah cintanya selain dengan agni si buta, pikiran-pikiran itu yang selalu di dengar rio dan agni nanmun tak sedikit di gubris oleh kedua sahabat yang sudah lama merajut kisah persahabatan mereka.
Setibanya mereka di kantin belakang benar saja, ah suasana sawah hijau yang menghijaukan semua pandangan mata, segar rasanya meski matahari hari ini sedang berada di puncak kepala namun panas nya sang surya kali ini benar-benar terabaikan oleh ify. Kota Bandung, kota penghijauan.
“mau pesan makanan apa nona?” Rio yang melihat ify hanya melamuni sawah-sawah hijau itu pun mengingatkannya bahwa di sini juga tempat untuk mengisi perut yang kosong, bukan hanya mengisi kesejukan hati atau keindahan mata semata.
“Apa aja yo,,” Rambut panjang ify teribas angin sawah, “Gue suka suasana nya..,”
“Gue pesen bakmi yang biasa kita pesen ya ag.. lu mau fy?”
“Boleh yo,, thank’s ya..” ify kembali memandang swah yang masih tampak hijau, kehijauan itu bergoyang tertiup angin, indah. Bandung benar-benar kota yang sudah menjadi desa.
“fy..” Agni membuyarkan pemikiran ify tentang kota Bandung. “Iya? Bandung indah ya ag..”
“Masa sih? Bukannya Jakarta itu kota besar melebihi Bandung?”
“Di Jakarta mana ada udara segar tengah hari bolong kaya gini.. huh”
“Tapi Jakarta itu punya Monunem Nasioal loh,, dan itu keren bgt kan fy?”
“iya sih,, tapi Bandung tuh lebih seru di banding Jakarta yang gersang..”
“Manusia emng ga pernah puas ya? Pasti orang-orang di Bandung juga jenuh sm suasana di sini, nanti kamu juga bosen sm bandung fy lama-lama haha..”
Ify tak mengubris pembicaran agni, ntah lah mungkin benar bsok atau 2 minggu kedepan mungkin pemandangan Bandung yang ia lihat sekarang akan terasa jenuh, tapi tidak untuk kali ini, matanya masih ingin menikmati angin sejuk siang hari ini, namun tiba-tiba bola matanya tertuju pada gadis yang dari tadi setia menemaninya, sama-sama memandang keindahan sawah sejauh mata memandang namun kekosongan mata agni yang mebedakan segalanya.
“ag,,”
“Iya?” Mata agni masih tertuju pada sawah-sawah itu, ntah lah mungkin agni benar-benar bisa melihat sawah yang hijau itu bergoyang karena tertiup angin dalam klise mata yang berbeda.
“Kamu sering ke dokter ya?”
“Ke dokter? Ngapain? Gue sehat kali fy..”
“Cek ada donor mata atau engga..”
Gadis yang biasa di panggil agni ini malah tertawa kecil, “Ngapain fy? Kurang kerjaan bgt nge cek in ada donor mata atau engga..”
“Loh? Emangnya kamu ga mau…..” ify tak melanjutkan kata-kata nya ia heran ko agni malah tetawa? Memangnya ia tak ingin…
“Bisa Melihat?” agni menyabung kata-kata ify yang sempat terputus.
“Iya,, sorry ya ag..”
“Gak apa-apa fy.., gini ya..” agni membalik posisi duduknya kearah ify berada, ia memandang ify, namun tetap, mata itu kosong, tak bernyawa.
“Gue, udah buta dari lahir fy, gue ga mau merubah takdir yang udh Allah kasih ke gue Cuma karena gue pengen lihat.. kecuali Allah sendiri yang ngasih izin buat gue bisa melihat lagi” ify sedikit tidak paham maksud dari teman baru nya ini, apa maksudnya? Memangnya kalau orang sudah buta atau cacat dari lahir ga boleh melalukan pengambilan donor mata?
“Jadi? Maksudnya kamu ga mau merubah takdir? Tapi kan takdir itu ga harus smuanya di ikuti ag,, takdir itu ada yang bisa di ubah oleh kita loh..”
“Iya, gue paham tapi buat apa gue bisa melihat kalau dari awal gue udh ga dapet izin dari Allah? Donor mata itu ibaratnya Cuma ikutin nafsu gue aja buat bisa lihat fy..”
“Aku ga ngerti deh ag..”                                                                                   
“haha.. kadang apa yang gue pahami emg sulit di mengerti sm orang lain fy,, so yaaaa… gini lah gue..”
“Emangnya kamu ga mau melihat dunia? Ga mau liat monas? Ga mau liat swah yang sekarang ada di depan mata kamu ag? Emangnya kamu ga mau liat Rio? Ga mau liat aku? Ga mau liat…….”
“Shhhhtttt… “ jari telunjuk agini tepat berada di bibir ify, ntah lah mengapa ify tiba-tiba ingin menangis? Ternyata ify menyadari satu hal agni itu kadang bisa melihat, terkadang agni itu bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat dengan mata normal.
“Fy, kalau lo mau jadi sahabat gue, lo harus pahami apa maksud gue yang tadi, ga smua takdir yang kita inginin indah itu terwujud..” Agni tersenyum
“Bakmi datangggggggggg..” Mario, datang membawakan tiga mangkuk yang berisi bakmi tanpa mengetahui perdebatan  dua gadis yang sudah siap menyantap bakmi tersebut.

masih berlanjut.. hehe